Program untuk membangun satu pangkalan udara baru yang bertaraf internasional sebenarnya sudah digagas sejak berdirinya Biro Penerbangan Angkatan Laut pada tahun 1956. Namun demikian, pada akhirnya agenda politik pula yang menjadi faktor penentu realisasi program tersebut. Salah satunya adalah perjuangan pembebasan Irian Barat. Dengan tujuan untuk membantu kinerja TNI dalam pembebasan Irian Barat, pemerintah menyetujui pembangunan pangkalan udara baru di sekitar surabaya. Saat itu terdapat beberapa pilihan lokasi, antara lain: Gresik, Raci (Pasuruan) dan Sedati (Sidoarjo). Setelah dilakukan survei, akhirnya pilihan jatuh pada Desa Sedati, Sidoarjo. Tempat ini dipilih karena selain dekat dengan Surabaya, areal tersebut memiliki tanah yang sangat luas dan datar, sehingga sangat memungkinkan untuk dibangun pangkalan udara yang besar dan dapat diperbesar lagi di kemudian hari.
Proyek pembangunan yang berikutnya disebut sebagai “Proyek Waru” tersebut merupakan proyek pembangunan lapangan terbang pertama sejak Indonesia merdeka. Karena pada waktu itu pangkalan udara yang lainnya adalah peninggalan Belanda yang kemudian diperbaiki dan disempurnakan. Pelaksanaan Proyek Waru, melibatkan tiga pihak utama, yaitu: Tim Pengawas Proyek Waru (TPPW) sebagai wakil pemerintah Indonesia, Compagnie d’Ingenieurs et Techniciens (CITE) sebagai konsultan dan Societe de Construction des Batinolles (Batignolles) sebagai kontraktor. Kedua perusahaan asing terakhir, merupakan perusahaan asal Perancis. Dalam kontrak yang melibatkan tiga pihak tersebut, ditentukan bahwa proyek harus selesai dalam waktu empat tahun (1960-1964). 
Untuk membangun pangkalan udara dengan landasan pacu yang besar (panjang 3000 meter dan lebar 45 meter), dilakukan pembebasan lahan yang luas keseluruhannya sekitar 2400 hektar. Lahan tersebut tidak hanya berbentuk tanah, tetapi juga sawah dan rawa. Selain itu juga dibutuhkan pasir dan batu dalam jumlah yang besar. Pasirnya digali dari Kali Porong dan batunya diambil dari salah satu sisi Bukit Pandaan yang kemudian diangkut dengan ratusan truk proyek menuju Waru. Jumlah pasir dan batu yang diperlukan sekitar 1.1200.000 meter kubik atau 1.800.000 ton. Konon jumlah pasir sebanyak itu bisa digunakan untuk memperbaiki jalan Jakarta-Surabaya sepanjang 793 Km dengan lebar 5 m dan kedalaman 30 cm. Sedangkan jarak tempuh seluruh truk proyek, bila digabungkan adalah sekitar 25 juta Km atau 600 kali keliling bumi.
Dengan kegiatan proyek yang berlangsung siang-malam dan dukungan kerjasama dari berbagai pihak (Pemkot Surabaya, Komando Militer Surabaya, Otoritas Pelabuhan dan masyarakat pada umumnya) akhirnya proyek tersebut dapat diselesaikan lebih cepat dari waktu yang dientukan. Pada tanggal 22 September 1963, berarti tujuh bulan lebih cepat, landasan tersebut sudah siap untuk digunakan. Sehari kemudian satu flight yang terdiri empat pesawat Gannet, dibawah pimpinan Mayor Kunto Wibisono melakukan pendaratan pertama kali.
Ir. Djoeanda Kartawidjaja
Di tengah proses pembangunan Proyek Waru ini, sempat terjadi krisis masalah keuangan. Ketika itu bahkan pihak Batignolles sempat mengancam untuk hengkang. Penanganan masalah ini pun sampai ke Presiden Sukarno. Dan Presiden Sukarno kemudian memberikan mandat kepada Ir. Djoeanda Kartawidjaja yang kala itu menjabat sebagai menteri pertama pada saat era Demokrasi Terpimpin, untuk mengatasi masalah ini hingga proyek ini selesai. Pada tanggal 15 Oktober 1963, Ir. Djoeanda mendarat di pangkalan udara Waru dengan menumpangi Convair 990 untuk melakukan koordinasi pelaksanaan proyek pembangunan. Tidak lama setelah itu, pada tanggal 7 Nopember 1963 Ir. Djoeanda wafat. Karena dianggap sangat berjasa atas selesainya proyek tersebut dan untuk mengenang jasa-jasa beliau, maka Pangkalan udara baru tersebut diberi nama “Djoeanda“. Pangkalan Udara Djoeanda secara resmi dibuka oleh Presiden Sukarno pada tanggal 12 Agustus 1964.
Dalam perkembangannya, muncul masalah yaitu keinginan Garuda untuk mengalihkan operasi pesawatnya (Convair 240, Convair 340 dan Convair 440) dari lapangan terbang Tanjung Perak yang kurang memadai ke Lanudal Djuanda. Namun, karena dalam pembangunannya tidak direncanakan untuk penerbangan sipil, Lanudal Djuanda tidak memiliki fasilitas untuk menampung penerbangan sipil. Karena kebutuhan Garuda semakin mendesak, maka kemudian otoritas saat itu berinisiatif merenovasi gudang bekas Batignolles untuk dijadikan terminal sementara. Dan jadilah bandara di Surabaya pindah ke Juanda.
Seiring waktu berjalan, frekuensi penerbangan sipil disana pun bertambah. Hingga akhirnya dibangun terminal untuk melayani penerbangan sipil. Terminal itulah yang kelak menjadi Bandara Internasional Juanda yang dijalankan oleh PT. Angkasa Pura 1. Dari penggunaan penerbangan sipil itu, Lanudal Juanda mendapatkan dana tambahan (baik dari airport free maupun penggunaan landasan) yang digunakan untuk menutupi biaya operasional dan pengembangan bandara.
Sempat digulirkan pula ide dari pemerintah untuk memindah-tangankan hak penggunaan pangkalan tersebut, dengan alasan biaya operasional bandara membebani anggaran HANKAM. Namun pihak Angkatan Laut menolak. Oleh karena itu dibangunlah sebuah bandara dan landasan baru yang terletak di sebelah utara landasan yang lama. Bandara itulah yang mulai tahun 2006 hingga sekarang dipakai sebagai salah satu gerbang memasuki Surabaya, baik dari luar daerah maupun luar negeri.

Sumber info dan foto: Rizal (tugupahlawan.com) yang disadur dari buku “Rajawali Laut: 50 Tahun Penerbangan Angkatan Laut”, dododwirosableng.blogspot.com dan www.delcampe.net.
Posted by Admin On 16.02 2 comments

2 komentar:

  1. wah... aku malah baru tahu. tengkyu infonyah

    BalasHapus
    Balasan
    1. sami2 mbak...kalau sampean ada cerita yang menarik monggo silakan bisa berbagi...dikirim via email ya di redaksi@ceritasby.com.. Ditunggu yaa

      Hapus

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

    Kontak Kami

    Kantor Redaksi :

    Krukah Selatan 10B No.1, Surabaya

    Kodepos 60245, Jawa Timur


    Email :

    info@ceritasby.com

    (kerjasama/pasang iklan)

    redaksi@ceritasby.com

    (kirim tulisan)

    Pesan Buku

    Buku Tamu

    Statistik Pengunjung